Jakarta, Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Kaspersky Lab, ada aneka situs yang menarik perhatian anak. Situs
bermuatan pornografi adalah satu dari 3 jenis situs yang paling menarik
perhatian anak. Nah, bagaimana orang tua meresponsnya?
Psikolog
anak dan remaja, Ratih Zulhaqi, menjelaskan umumnya ketertarikan seksual
terjadi di usia remaja. Pada saat itu anak sudah mulai bisa menilai
lawan jenisnya cantik atau ganteng. Nah, ketika anak tertarik dan bahkan
sering mengakses video atau gambar porno, menurutnya hal itu terjadi
karena pemaparan.
"Saya pernah mendapat klien, di mana anak kelas
2 SD sudah sering menonton video porno. Katanya dia mendapat link itu
di sekolah dari temannya. Bayangkan, link seperti itu dibuka di
sekolah," ujar Ratih dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis
pada Senin (10/6/2013).
Ketika anak tersebut ditanya mengapa suka
melihat video semacam itu, apa jawabnya? "Dia bilang video seperti itu
seru. Lalu dia bilang 'adik (penis) aku berdiri, rasanya kayak mau
pipis'. Kalau saat itu saya jelaskan dia sedang ereksi, anak sekecil itu
mungkin tidak akan paham," tutur Ratih.
Akhirnya Ratih mencari
jalan untuk menjelaskan bahaya video semacam itu berdasarkan pemahaman
anak usia sekitar 7 tahun. "Saya katakan 'kalau kamu nonton video
seperti itu terus kamu bisa kekurangan cairan karena kamu jadi ingin
pipis terus. Dehidrasi itu bahaya buat tubuh'. Akhirnya dibelokkan ke
yang seperti itu," sambung perempuan berjilbab ini.
Seiring
bertambahnya usia, tentu ada perkembangan seksual pada anak. Karenanya
anak mulai mengeksplorasi daerah seperti anus dan vagina atau penis
miliknya. Kadang anak kecil menduduki bantal dan merasa ada sensasi
tersendiri di organ genitalnya. Saat hal itu terjadi, orang tua bisa
menjelaskan sensasi itu muncul karena di area genital terdapat banyak
syaraf, sehingga pasti ada rasa tertentu.
Dari berbgai hasil
penelitian yang dibaca Ratih, ketika otak anak belum siap menerima
paparan berbau porno, maka efeknya adalah adiksi. Ratih mencontohkan
klien lainnya di mana ada anak usia 3 tahun yang sudah tahu aktivitas
seksual.
"Ternyata ini akibat ulah pengasuhnya. Awalnya anak ini
diminta menyusu ke pengasuhnya, lalu disuruh meraba-raba. Anak itu kan
nggak tahu apa-apa, tapi dia dibiasakan untuk melakukan aktivitas
seksual sejak kecil. Jadi dia melakukannya karena pembiasaan, bukan
karena ketertarikan secara seksual," tutur Ratuh.
Maka itu ketika
anak masih terlalu kecil menerima penjelasan mengapa mereka tidak boleh
mengakses video atau gambar bermuatan pornografi, maka berilah
penjelasan yang paling masuk akal untuknya. Keluarga merupakan garda
terdepan untuk melindungi anak dari paparan pornografi, namun sekolah
juga memiliki peran yang tak kalah penting.
"Biasakan anak
bertanggung jawab dengan apapun yng dilakukannya. Kalau mereka tahu
konsekuensinya, maka mereka akan mikir-mikir sebelum melakukan sesuatu.
Sebaliknya jika tidak terbiasa dengan sebab akibat, mereka akan gampang
melakukan sesuatu tanpa banyak berpikir," jelas Ratih.
Penelitian
yang dilakukan oleh B2B International untuk Kaspersky Lab pada April
2013 mengungkap bahwa tiap keluarga setidaknya memiliki dua atau tiga
PC/laptop (rata-rata di dunia 2,5 perangkat), satu atau dua smartphone
(rata-rata dunia 1,4) dan satu tablet (rata-rata 0,7).
Kaspersky
Lab menganalisis respons modul Parental Control yang terdapat dalam
produk perlindungan Kaspersky Lab, dan dalam lima bulan pertama 2013
analisis tersebut menemukan bahwa anak-anak tertarik akan beberapa hal
di internet yang sebenarnya bisa membahayakan mereka, yaitu:
- Jejaring sosial (31,26%)
- Situs-situs porno dan erotis (16,83%)
- Toko online (16,65%)
- Ruang bicara (chat) dan forum-forum (8,09)
- Web-mail (7,39%);
- Hal-hal yang berisi software ilegal (3,77%)
- Games kasual (3,19%).
Dalam
sebulan terakhir (Mei 2013), modul Parental Control mencatat lebih dari
52 juta percobaan untuk mengakses jejaring sosial, dan lebih dari 25
juta percobaan untuk mengakses situs pornografi.
Namun pilihan
anak-anak di tiap negara berbeda-beda. Di Amerika Serikat, kategori
'pornografi dan erotis' menjadi yang teratas dengan 22,02%, toko online
di tempat kedua dengan 19,50%, dan di tempat ketiga ada jejaring sosial
dengan 18,88%.
Hal serupa terlihat di Inggris di mana Top 3 di
negara ini sama dengan di AS yaitu situs pornografi (23,7%), toko online
(19,59%), dan jejaring sosial (16,14%). Yang membedakan adalah
anak-anak di Inggris lebih memilih games (5,94%) dibanding chat dan
forum (4,84%).
Parental Control di dalam produk-produk software
memberi rasa nyaman karena memungkinkan orang tua secara cerdas dan
bijaksana melindungi anak-anak dari konten yang tidak pantas tanpa harus
memblokir total akses internet mereka.
sumber dan info lengkapnya disini !
Ketika Anak Tertarik Situs Porno, Bagaimana Orang Tua Meresponsnya ?
Enter your email address to get update from Kompi Ajaib.
Print
PDF

Terimakasih atas kunjungan anda